Tuesday, June 23, 2009

Studium General Dr. Sri Mulyani Indrawati


"To reform is to change, firstly, our behavior, our old bad culture..."

Indonesia di OECD memiliki status "enhanced engagement" dan dalam konteks dunia tanpa batas atau "borderless world" seperti sekarang ini, masyarakat dunia terfokus pada masalah-masalah yang menjadi commmon concerns, seperti climate change...

Begitulah Dr. Sri Mulyani Indrawati, atau yang akrab disapa Mbak Ani ini, memulai acara ramah tamah dan tatap muka dengan masyarakat Indonesia yang ada di Paris. Gaya bicara yang lugas, khas seorang dosen, dengan aksen Jawa dan penggunaan bahasa campur aduk Indonesia dan Bahasa Inggris. Maklum, doktor lulusan Amerika Serikat ini memang biasa menyampaikan pidato di forum-forum internasional dan biasa menghadapi klien dari berbagai bangsa. Ditambah, banyak terminologi ekonomi yang lebih pas digunakan tanpa harus dipadankan dengan bahasa Indonesia, yang terkadang kurang pas.

Terkait masalah Krisis Ekonomi Dunia sebagai tema sentral ceramahnya malam itu, Ibu Ani mengkritisi kondisi dunia saat ini, khususnya dalam kacamata seorang pakar ekonomi. Krisis ekonomi global membawa dampak kepada hampir seluruh negara, tidak terkecuali negara-negara Eropa. 

Yang terjadi kemudian adalah ekspansi, imitasi dan inovasi sistem ekonomi Amerika Serikat yang dinilai kuat dan hebat sehingga sangat menarik untuk diikuti. Ketika China mencapai kemajuan pesat ekonominya, dunia pun melirik negara tersebut dan mencoba meniru, padahal pada saat yang bersamaan sesungguhnya China tengah meniru AS. China meraih apa yang disebut "surplus ekonomi" dari ekspor barang-barangnya ke luar negeri, dari yang bermutu rendah sampai yang berkualitas.

Pada saat Indonesia mengalami krisis tahun 1997/1998, negara-negara lain di dunia justru tengah booming economy. Mengapa Indonesia terkena krisis? Karena Indonesia tidak prudent, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga politik, lalu praktik "borrowing" ke luar negeri yang dilakukan oeh pihak swasta dengan fixed exchange rate. Ketika satu institusi bank rusak, maka muncul risiko sistemik, "kliring" dan dampak lain yang menjalar ke bank-bank lainnya (sifat contagious, "domino effects").

Sementara itu AS, sang raksasa ekonomi dunia, dengan kebijakan moneter yang rileks, seperti misalnya "bubble technonolgy" yang dipopulerkan oleh Alan Greenspan, tidak tergoyahkan oleh serangan terorisme, seperti 911. Ketika neraca keuangan AS keropos, hal itu terjadi karena ada masalah pada lembaga keuangannya, bukan karena terorisme.

Indonesia, dianggap sebagai "late comer" karena krisis ekonomi yang panjang ditambah sederet krisis di aspek politik, legal-formal, dst. Yang terjadi adalah "massive bankruptcy" tanpa adanya legal solutions! Dengan kata lain, Indonesia adalah negara yang baru bangkit dari "shock" di mana muncul berbagai institusi baru, seperti misalnya Mahkamah Konstitusi. 

Indonesia is "legally" in crisis. Tiba-tiba banyak institusi baru dan undang-undang baru. Kita pun banyak mengadopsi konsep asing, dengan interpretasi yang juga beragam.
Memahami Indonesia haruslah dengan titik pandang kekinian; Indonesia dengn new face, new setting...

Ibu Ani kemudian mengutarakan dua hal utama yang harus diterusakan dalam hal kebijakan ekonomi makro. Presiden, Menkeu dan DPR, harus bekerjasama dalam hal; 
1) menyusun undang-undang APBN (as a policy choice) dan,
2) perbaikan birokrasi


Inti dari perjalanan panjang reformasi bangsa Indonesia, sesungguhnya harus dimulai dari mengubah perilaku dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah mengakar pada masyarakat secara keseluruhan dan pada pribadi-pribadi yang memegang amanah dalam suatu institusi, pada khususnya....
  

No comments:

Post a Comment