Tuesday, July 7, 2009

BRAVO INDONESIAKU !!!

Selasa, 07/07/2009 12:37 WIB
Laporan dari Paris
RI Terbaik di Carnaval Tropical de Paris 2009
Eddi Santosa - detikNews
Paris - Indonesia kembali meraih penghargaan sebagai partisipan terbaik di Carnaval Tropical de Paris 2009. Bahkan juri karnaval, terdiri dari para artis Perancis, juga memuji koreografi Indonesia.

Penghargaan terbaik untuk kategori mobil hias itu diumumkan pada Minggu (5/7/2009) kemarin. Indonesia melalui KBRI Paris menampilkan mobil hias bernuansa tradisional Bali dan koreografi berupa Tari Kecak dengan mengusung tema Unite dans la Diversite (Bhinneka Tunggal Ika).

Sepanjang jalur karnaval, iring-iringan kontingen Indonesia itu disambut dengan sangat antusias oleh penonton. Bahkan banyak penonton ikut-ikutan berkecak bersama, menirukan bunyi kecak kontingen Indonesia.

Secara khusus Wakil walikota Paris, Hamou Boakkaz, menyampaikan apresiasinya pada kontingen Indonesia, yang dinilainya jauh berbeda dari kontingen negara lain. 

Kontingen lain mendatangkan penari dan artis dari negaranya, sebaliknya kontingen Indonesia merupakan perpaduan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Perancis, Staf KBRI, dan warga negara asing pecinta Indonesia di bawah bimbingan Nyoman Kariasi, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Bali.

Ajang Promosi

Carnaval Tropical de Paris adalah salah satu carnaval terbesar dan even tahunan unggulan kota Paris, diselenggarakan oleh pemerintah kota Paris dan federasi Carnaval Tropical de Paris ile-de-France.

Tamu kehormatan tahun ini adalah Kolombia, Guadelopue dan Martinique, dengan lebih dari 2000 penari dan musisi.

Setiap tahunnya, karnaval yang telah memasuki edisi ke-8 ini memberikan berbagai penghargaan kepada kontingen-kontingen dengan penampilan terbaik.

Karnaval tahun ini menempuh rute dari Place des Nations sampai ke Porte de Pantins, yang dipenuhi oleh sekitar lima puluh ribu penonton dan disiarkan secara langsung di stasiun TV Perancis France O.

Menurut Sekretaris III Pensosbud Gustaf Sirait, KBRI Paris menjadikan karnaval ini sebagai agenda budaya tahunan yang selalu diikuti, karena merupakan ajang sangat bagus untuk memperkenalkan kebudayaan dan pariwisata Indonesia melalui persembahan seni budaya, pembagian ribuan cenderamata dan brosur pariwisata Indonesia. "Diharapkan partisipasi tersebut dapat terus meningkatkan promosi kebudayaan dan pariwisata Indonesia di Perancis," demikian Gustaf.

(es/es)

SUMBER: http://www.detiknews.com/read/2009/07/07/123755/1160474/10/ri-terbaik-di-carnaval-tropical-de-paris-2009

Monday, July 6, 2009

Pak Fasli Jalal: Bangga BIsa Sekolahkan Putra Bangsa ke Luar Negeri



Situasi saat ini, Human Development Index (HDI) Indonesia, masih di bawah rata-rata negara ASEAN+3 (Jepang, Singapura, Korea, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, China, Filipina, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar dan Indonesia), sementara tingkat gizi buruk masih tinggi. Masalah asupan gizi i dan anak di Indonesia, sesungguhnya tidak hanya berbanding lurus dengan tingkat ekonomi namun juga terkait dengan upaya penyebaran informasi melalui penyuluhan yang akan menyadarkan kaum ibu akan urgensi gizi yang baik bagi anak-anak penerus bangsa. 

Masalah asupan gizi ini tidak hanya berarti masalah kurang gizi atau gizi buruk tetapi juga masalah obesitas. Inti masalah terletak pada kurangnya pengetahuan dan pemahaman keluarga, khususnya kaum ibu, dalam hal gizi, dan juga pada gaya hidup modern yang mementingkan kepraktisan. Gizi buruk juga terkait dengan tingginya tingkat kematian bayi. 

Di bidang pendidikan, Korea Selatan menempati posisi punck dengan tingkat sekolah yang jauh di atas rata-rata anggota negara ASEAN+3 lainnya.

Secara umum, menurut Global Competitive Index (Michael E. Porter, 2008), tingkat kompetisi negara dapat diukur dari faktor-faktor sebagai berikut: 

1. INVESTASI
2. TECHNICAL JOURNAL per milyar of people
3. HIGHER EDUCATION

Langkah konkrit yang telah dan akan diteruskan oleh DIKTI untuk meningkatkan tingkat kompetisi pendidikan tinggi di Indonesia:

1. Peningkatan kesejahteraan dosen dengan sertifikasi dosen, tunjangan profesi, tunjangan kehormatan untuk guru besar
2. Jurnal ilmiah
3. Pemberian beasiswa S2 dan S3 
4. Kewirausahaan  mahasiswa melalui pengembangan UKM dengan melibatkan mahasiswa dalam manajerialnya

Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk maju. Tiga hal yang dapat menjadi kunci bagi pintu kesuksesan dan keunggulan itu adalah: KERJA KERAS, KERJA CERDAS, KERJA SAMA. 


Saturday, July 4, 2009

TARI KECAK NAN RANCAK

“Cak..cak..cak...cak..cak..cak...” iringan para penari kecak kompak mengayunkan kedua tangan yang diangkat tinggi, ke kanan, lalu ke kiri. Alunan musik gilak yang bertalu-talu dari gangsel, ceng ceng, gong dan tabuhan gendang, mengiringi dan menyemangati.

Sepanjang jalan iringan kontingen Indonesia yang terdiri dari PPI Paris, staf KBRI Paris dan beberapa orang asing pencinta budaya Indonesia, disambut antusias oleh penonton. Mereka pun larut dalam keceriaan dan keunikan bunyi kecak dan musik khas Pulau Dewata.

Begitulah sekilas gambaran keikutsertaan PPI Paris dalam kegiatan tahunan Mairie de Paris yang cukup bergengsi, Carnaval Tropical de Paris 2009, pada hari Minggu 5 Juli 2009. Sebagai peserta tamu, Indonesia meraih penghargaan sebagai partisipan terbaik dan mobil hias terbaik 2009. Mengusung tema Unité dans la Diversité (Bhinneka Tunggal Ika) yang tertulis besar-besar dalam spanduk di depan mobil hias, kontingen Indonesia menampilkan sesuatu yang berbeda di antara riuh rendah musik perkusi dan tarian à la Afrika yang mendominasi karnaval.

Melihat sendiri antusiasme masyarakat sekitar akan musik dan tari yang kita bawakan, merupakan suatu “keberhasilan” tersendiri, yang melebihi dari piala atau piagam penghargaan. Artinya, bila orang asing bisa begitu mengapresiasi budaya kita sendiri, apakah kita masih ragu untuk terus mempelajari dan mempromosikannya ke negara lain, dalam berbagai kesempatan? Sungguh, dengan ikut serta dalam aktivitas seperti ini justru semakin tumbuh kecintaan kita pada budaya sendiri.

Duta Bangsa, Duta Budaya

Tiap pelajar Indonesia di Paris mengemban tugas penting. Pertama, sebagai pelajar di negara asing, tidak hanya sebagai penuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi berkualitas di Negeri Napoleon, yang harus berprestasi dan bersaing dengan pelajar dari berbagai negara, tetapi juga sebagai duta bangsa; mewakili, merepresentasikan dan membawa nama besar Indonesia, dalam keseharian dan dalam berbagai kesempatan promosi budaya.

Kedua, Paris sebagai salah satu kota besar di dunia, dengan kekayaan sejarah dan ketinggian budayanya, kini tidak hanya terkenal sebagai kota modern dalam pendidikan dan teknologi, tetapi juga merupakan pusat aktivitas berbagai sektor kehidupan; perdagangan, pariwisata, kuliner, adibusana, pendidikan, dan seterusnya. Singkatnya, Paris adalah magnet yang terus menarik orang dari berbagai penjuru dunia untuk datang. Nilai plus kota Paris inilah yang menjadikan keberadaan PPI Paris menjadi sangat penting sebagai duta budaya. Di kota inilah puluhan kegiatan kebudayaan tahunan berpusat dan menjadi sorotan mata dunia. Selain Carnaval Tropical de Paris, ada pula La Fête de la Musique dan Salon du Chocolate (Pameran Coklat), di samping kegiatan promosi budaya yang diinisiatifkan oleh KBRI Paris, seperti Festival Indonesia, Chic Batik, dan lain-lain.

Ujung tombak diplomasi budaya

Pelajar Indonesia yang berada di negara Perancis, khususnya di kota Paris, memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai bentuk diplomasi kebudayaan Indonesia. Tentu saja, diplomasi yang dimaksud dalam kerangka kerjasama dengan KBRI setempat, khususnya bidang sosial budaya, yang memfasilitasi tempat, peralatan, tenaga pengajar seni. Ibarat sebuah perusahaan, KBRI Paris adalah sang manajer sementara PPI Paris adalah anak buah yang siap melaksanakan amanah. Karena itu, tanpa dukungan penuh KBRI Paris, tentu sulit mengejawantah segala ide dan inisiatif yang ada. Sebaliknya, PPI Paris lah yang menjadi tombak-tombak yang siap diarahkan dan dipanah untuk tujuan mulia; membawa nama Indonesia dalam berbagai kegiatan promosi budaya sebagai bentuk nyata diplomasi kebudayaan itu sendiri.

-uwie-