Friday, January 30, 2009

PPI dalam Sejarah

Sekilas cerita PPI di masa lalu...Menarik banget!!! :-)


Wednesday, January 28, 2009

Pertemuan Dgn Bpk Muchlas Samani

Pukul 14, rumah Dubes Unesco, Place Victor Hugo. 
Baru ada Shevia, Ibu Ika, dan aku. Mas Danang dan Mas Agus memilih ngobrol di luar. Ibu Mitha lagi asik menyiapkan menu untuk makan siang-yg agak telat-itu; sop baso ikan sebagai menu pembuka, nasi putih, gudeg, krecek sebagai menu utama. Hmm, sedap. Setelah 1 jam menunggu sambil membicarakan berbagai hal, mulai dari masakan, petits jobs à paris, sampai masalah TKW di Paris, datanglah tamu yang ditunggu2, Bapak Muchlas Samani, Direktur Ketenagaan DIKTI, bersama Atase Pendidikan, Bpk. Sudradjat. Satu per satu étudiant pun datang, hingga meja makan oval yang sekaligus dipakai sebagai tempat berdiskusi siang itu, penuh. 

Acara dimulai dengan makan siang bersama dengan menu istimewa à la Yogyakarta yang disiapkan Bu Mitha.


Tidak seperti pejabat pada umumnya, Pak Muchlas cukup bersahaja dalam penampilan dan bersahabat dalam berbicara. Yah, memang seharusnya begitu ya. Maka diskusi lebih banyak diwarnai candaan yang mencairkan suasana. Pertanyaan seputar beasiswa DIKTI, Form A, lama studi, dll menjadi topik utama siang itu. Di kesempatan ini juga teman2 seperti Mas Eko bisa bertanya; mengapa untuk yang sudah di luar negeri harus ikut wawancara juga, padahal dalam ketentuan yang ditetapkan DIKTI sendiri disebutkan bahwa bagi mereka yang sudah di LN tidak wajib wawancara; seleksi dilakukan berdasarkan berkas2 saja. Ternyata oh ternyata, bisa jadi kita salah mengisi Formulir. Karena, kata pak Muchlas, ada form untuk kandidat yg masih di Indonesia, dan ada form untuk mereka yg sudah di LN. Tapi ya gapapa, Mba Ratna pulang ke Indonesia, selain wawancara untuk beasiswa DIKTI, juga sekalian cari data soalnya. Hehehe. Lalu ada juga pertanyaan bagaimana bila sudah selesai S2 mau lanjut langsung S3, apakah DIKTI bersedia membiayai lebih lanjut? Jawabnya, tergantung ketersediaan dana di tahun2 selanjutnya (alokasi dari DPR) dan tentu saja hasil S2 kita apakah memuaskan atau tidak. Dan bagaimana pula bila ingin melanjutkan, setelah S3 selesai, ke jenjang post-doctorat? Jawabannya senada dgn yg sebelumnya.

Kriteria apa sih yang menentukan seleksi?

1. Tingkat universitas di dunia, nah kalau untuk universitas2 di Perancis yang 
ga ikutan sistem USA, ada peringkat tersendiri, terpisah dari rangking universitas2 USA, Inggris, Jepang, dan negara2 maju destinasi pendidikan lainnya.

2. Progress Report (bagi yang mendaftar untuk S3 tahun ke-2 dan tahun ke-3). Laporan mengenai kemajuan studi, hasil tulisan dan penerbitan, dsb, menjadi faktor yang menentukan.


Demikianlah, pertemuan informal dengan Bapak Muchlas berlangsung dengan penuh kehangatan, diselingi dengan cemilan2 gurih à la Tang Frère, sekotak coklat dan buah2an. Terima kasih Pak, semoga program beasiswa ini terus ada setiap tahun, supaya dosen-dosen, terutama yang di daerah, mendapat kesempatan meningkatkan kualitas diri. Dan semoga yang belum dapat tahun lalu, bisa dapat tahun ini ya Pak!!! (permohonan pribadi :P)
Amiiin!!!

Friday, January 23, 2009

Bravo PPI Marseille!!!

Hebat, bravo!!!

Setelah sukses menyelanggarakan BAMUS PPI Perancis 2008 bulan November lalu, kali ini PPI Marseille kembali menunjukkan kekompakannya. Bekerjasama dengan CROUS, KJRI, teman2 dari luar Marseille, sehingga acara Journée Indonésienne yang temanya sederhana namun berlangsung luar biasa itu, lancar dan sukses!

Kepikiran untuk bikin acara serupa, dari dulu, karena teman2 étudiants vietnamiens langganan membuat acara serupa di Maison Culturel CROUS de Toulouse. Tapi di Paris, mungkinkah?

Thursday, January 22, 2009

Triwulan Pertama


Panik!!!!! 

"25 Oktober 2008, LPJ dan Pemilihan Ketua PPI Paris." 

Begitu yang tertera di agenda harianku. Oh la la, berarti sudah hampir 3 bulan sejak pemilihan yang buatku pribadi "tidak direncanakan dan tidak terduga" itu, PPI Paris 2008-2009 mengambil alih kepemimpinan Muhammad Ridha. Huhuhu, sekali lagi, panik!!!!

Masalahnya, perasaan waktu cepat sekali berlalu. Lalu, selama kurun waktu 3 bulan itu, perasaan belum ngapa-ngapain!!! Coba diingat-ingat lagi. Setelah Pemilihan, ada Salon du Chocolate, lengkap dengan "insiden" yang membuat Pak Yoyon dan Kang Dede, pelatih kami, ngambek. Wah, panjang ceritanya, butuh postingan tersendiri. Lalu ada Soirée INALCO, dua minggu setelahnya. Lalu Bamus PPI Perancis 28-30 November 2008 di Marseille. Kemudian ada Food Festival di KBRI, 6 Desember 2008, tapi PPI Paris tidak diikutsertakan. Mungkinkah KBRI masih trauma dengan insiden Salon du Chocolate? Sampai-sampai Ruang Gamelan, yang pada saat Food Festival menjadi salah satu arena untuk dikunjungi para tamu, dibiarkan begitu saja? Jadilah para tamu melihat-lihat gamelan, barang mati yang (seharusnya) menciptakan suara-suara indah bilamana dimainkan? Melihat angklung, yang sudah lapuk dan sebagian hilang, tanpa pernah dimanfaatkan? Kasihan tamu-tamu. Kasihan KBRI. Kasihan PPI.

Namun yang lebih merana adalah seperangkat gamelan dan jejeran angklung yang menganggur itu sendiri. Andaikan mereka bisa bicara, tentu segera mereka berseru "Hey, kami ini alat musik, untuk dimainkan, untuk dipertunjukkan kebolehan kami berdendang dan berlagu. Namun kami mati suri, tak tersentuh dan tak terawat. Kami bukan pajangan yang biasa berdebu dan akhirnya tersingkir pajangan baru. Kami adalah musisi pasif! Mainkan kami!!!" Ahh, maafkan aku Saron, Selentem, Bonang, Rincik, Gong, Gendang, dan teman-teman semua.

Lalu tiba-tiba saja sudah Idul Adha. Di hari yang sama, 8 Desember 2008, kami menerima berita duka cita atas wafatnya Bapak Dubes tercinta, Afrizal Effendi, di RSCM Jakarta. Innalillaahi wainnailaihi rojiuun... Semoga bakti dan segala kebaikan Bapak dibalas dengan surga-Nya dan semoga suri tauladan Bapak kepada kami terus menyala dan menjadi amal yang terus melimpah kepadamu. Amin ya robbal alamiiin.

KBRI berduka. Kami semua berduka. Maka acara Perayaan Tutup Tahun dibatalkan. 

Tanggal 21 Desember 2008, PPI Paris mengadakan acara Iceskating bersama, di Patinoire de Noël depan Hôtel de Ville. Pesertanya ga sampai 10 orang!!! Kemudian minggu depannya, tanggal 28 Desember 2008, PPI Paris mengadakan acara jalan2 ke Versailles. Lagi-lagi yang ikut cuma sedikit. Terkait dengan libur panjang Tahun Baru dan Natal, sebagian besar pergi ke luar kota atau ke luar negeri, sebagian memilih berlindung dari dinginnya l'Hiver, di bawah selimut hangat dan di sebelah chauffage yang dinyalakan maksimum, sebagian sudah pernah ke Versailles jadi ga tertarik lagi, sebagian sama sekali tidak tertarik dengan 1001 alasan. Yah, namanya juga jalan2, loisirs, bon chacun a son goût non? ;-)

Setelah itu, ada apa lagi ya? Huhuhu kayaknya ga ada apa2 nih. Selain kegiatan rutin seperti Pengajian Iqra/ Quran untuk anak2 dan remaja di KBRI, kemudian latihan silat, setiap hari Sabtu sore, apa lagi yaaa???? OMG!!!