Saturday, July 4, 2009

TARI KECAK NAN RANCAK

“Cak..cak..cak...cak..cak..cak...” iringan para penari kecak kompak mengayunkan kedua tangan yang diangkat tinggi, ke kanan, lalu ke kiri. Alunan musik gilak yang bertalu-talu dari gangsel, ceng ceng, gong dan tabuhan gendang, mengiringi dan menyemangati.

Sepanjang jalan iringan kontingen Indonesia yang terdiri dari PPI Paris, staf KBRI Paris dan beberapa orang asing pencinta budaya Indonesia, disambut antusias oleh penonton. Mereka pun larut dalam keceriaan dan keunikan bunyi kecak dan musik khas Pulau Dewata.

Begitulah sekilas gambaran keikutsertaan PPI Paris dalam kegiatan tahunan Mairie de Paris yang cukup bergengsi, Carnaval Tropical de Paris 2009, pada hari Minggu 5 Juli 2009. Sebagai peserta tamu, Indonesia meraih penghargaan sebagai partisipan terbaik dan mobil hias terbaik 2009. Mengusung tema Unité dans la Diversité (Bhinneka Tunggal Ika) yang tertulis besar-besar dalam spanduk di depan mobil hias, kontingen Indonesia menampilkan sesuatu yang berbeda di antara riuh rendah musik perkusi dan tarian à la Afrika yang mendominasi karnaval.

Melihat sendiri antusiasme masyarakat sekitar akan musik dan tari yang kita bawakan, merupakan suatu “keberhasilan” tersendiri, yang melebihi dari piala atau piagam penghargaan. Artinya, bila orang asing bisa begitu mengapresiasi budaya kita sendiri, apakah kita masih ragu untuk terus mempelajari dan mempromosikannya ke negara lain, dalam berbagai kesempatan? Sungguh, dengan ikut serta dalam aktivitas seperti ini justru semakin tumbuh kecintaan kita pada budaya sendiri.

Duta Bangsa, Duta Budaya

Tiap pelajar Indonesia di Paris mengemban tugas penting. Pertama, sebagai pelajar di negara asing, tidak hanya sebagai penuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi berkualitas di Negeri Napoleon, yang harus berprestasi dan bersaing dengan pelajar dari berbagai negara, tetapi juga sebagai duta bangsa; mewakili, merepresentasikan dan membawa nama besar Indonesia, dalam keseharian dan dalam berbagai kesempatan promosi budaya.

Kedua, Paris sebagai salah satu kota besar di dunia, dengan kekayaan sejarah dan ketinggian budayanya, kini tidak hanya terkenal sebagai kota modern dalam pendidikan dan teknologi, tetapi juga merupakan pusat aktivitas berbagai sektor kehidupan; perdagangan, pariwisata, kuliner, adibusana, pendidikan, dan seterusnya. Singkatnya, Paris adalah magnet yang terus menarik orang dari berbagai penjuru dunia untuk datang. Nilai plus kota Paris inilah yang menjadikan keberadaan PPI Paris menjadi sangat penting sebagai duta budaya. Di kota inilah puluhan kegiatan kebudayaan tahunan berpusat dan menjadi sorotan mata dunia. Selain Carnaval Tropical de Paris, ada pula La Fête de la Musique dan Salon du Chocolate (Pameran Coklat), di samping kegiatan promosi budaya yang diinisiatifkan oleh KBRI Paris, seperti Festival Indonesia, Chic Batik, dan lain-lain.

Ujung tombak diplomasi budaya

Pelajar Indonesia yang berada di negara Perancis, khususnya di kota Paris, memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai bentuk diplomasi kebudayaan Indonesia. Tentu saja, diplomasi yang dimaksud dalam kerangka kerjasama dengan KBRI setempat, khususnya bidang sosial budaya, yang memfasilitasi tempat, peralatan, tenaga pengajar seni. Ibarat sebuah perusahaan, KBRI Paris adalah sang manajer sementara PPI Paris adalah anak buah yang siap melaksanakan amanah. Karena itu, tanpa dukungan penuh KBRI Paris, tentu sulit mengejawantah segala ide dan inisiatif yang ada. Sebaliknya, PPI Paris lah yang menjadi tombak-tombak yang siap diarahkan dan dipanah untuk tujuan mulia; membawa nama Indonesia dalam berbagai kegiatan promosi budaya sebagai bentuk nyata diplomasi kebudayaan itu sendiri.

-uwie-

No comments:

Post a Comment