Situasi saat ini, Human Development Index (HDI) Indonesia, masih di bawah rata-rata negara ASEAN+3 (Jepang, Singapura, Korea, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, China, Filipina, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar dan Indonesia), sementara tingkat gizi buruk masih tinggi. Masalah asupan gizi i dan anak di Indonesia, sesungguhnya tidak hanya berbanding lurus dengan tingkat ekonomi namun juga terkait dengan upaya penyebaran informasi melalui penyuluhan yang akan menyadarkan kaum ibu akan urgensi gizi yang baik bagi anak-anak penerus bangsa.
Masalah asupan gizi ini tidak hanya berarti masalah kurang gizi atau gizi buruk tetapi juga masalah obesitas. Inti masalah terletak pada kurangnya pengetahuan dan pemahaman keluarga, khususnya kaum ibu, dalam hal gizi, dan juga pada gaya hidup modern yang mementingkan kepraktisan. Gizi buruk juga terkait dengan tingginya tingkat kematian bayi.
Di bidang pendidikan, Korea Selatan menempati posisi punck dengan tingkat sekolah yang jauh di atas rata-rata anggota negara ASEAN+3 lainnya.
Secara umum, menurut Global Competitive Index (Michael E. Porter, 2008), tingkat kompetisi negara dapat diukur dari faktor-faktor sebagai berikut:
1. INVESTASI
2. TECHNICAL JOURNAL per milyar of people
3. HIGHER EDUCATION
Langkah konkrit yang telah dan akan diteruskan oleh DIKTI untuk meningkatkan tingkat kompetisi pendidikan tinggi di Indonesia:
1. Peningkatan kesejahteraan dosen dengan sertifikasi dosen, tunjangan profesi, tunjangan kehormatan untuk guru besar
2. Jurnal ilmiah
3. Pemberian beasiswa S2 dan S3
4. Kewirausahaan mahasiswa melalui pengembangan UKM dengan melibatkan mahasiswa dalam manajerialnya
Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk maju. Tiga hal yang dapat menjadi kunci bagi pintu kesuksesan dan keunggulan itu adalah: KERJA KERAS, KERJA CERDAS, KERJA SAMA.
No comments:
Post a Comment