Hari Kamis, 7 Mei 2009, warga Indonesia di Paris kedatangan tamu istimewa; Bapak Menristek Kusmayanto Kadiman yang dalam lawatannya ke negara Austria, menyempatkan diri berbagai aktualitas di Indonesia secara umum dan khususnya dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pukul 19 di Sasana Budaya KBRI Paris, telah berkumpul sekitar 30-an mahasiswa dan 20-an diplomat serta pegawai KBRI lainnya. Acara yang bertajuk "Studium Generale" berlangsung justru dalam suasana keakraban dan antusiasnya peserta mendengar ceramah yang diselingi humor segar, membuat 1 jam serasa tidak cukup.
Poin penting yang digagas Pak Menteri di antaranya; pentingnya kerjasama bilateral antara Indonesia-Perancis, dalam bidang sosial-budaya dan pendidikan. "Paradoks" adalah kata inti dalam bahasannya. Indonesia adalah negara yang memiliki banyak hal yang bersifat paradoks. Di satu sisi, Indonesia punya banyak "berkah" berupa sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlimpah. Di sisi lain, "ancaman" berupa musibah yang diakibatkan aktivitas alam dan keteledoran manusia.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Pak Menteri mengatakan dirinya harus menyinggung perpolitikan Indonesia, yang kini tengah menanti pasangan koalisi calon presiden dan calon wakil presiden. Sebelum itu, beliau menyebutkan ada tiga hal yang tengah berlangsung di Indonesia namun terlihat "loose control" dalam pelaksanaannya; pertama, kebebasan pers, di mana surat kabar kini begitu bebas "menyerang" aktor-aktor politik hingga surat kabar apapun yang kita beli, isinya sama saja. Kedua, Otonomi Daerah yang justru menjadi bumerang di mana uang yang dialirkan ke daerah dan propinsi, atas nama desentralisasi, justru menumpuk dan tidak efektif, hingga muncul istilah "PKB" (propinsi kaya baru), empat besar di antaranya Kalimantan Timur, Riau, Aceh dan Papua. Pekerjaan rumah bagi kita semua adalah mencari wujud desentralisasi yang lebih baik. Ketiga, PILKADA(L), pemilihan kepala daerah langsung, yang memakan ongkos sosial terlalu tinggi.
Di bidang pariwisata, kini saatnya mengangkat daerah atau propinsi lain, hingga tidak melulu berkonsentrasi pada Bali. Manado, Sumatra Utara, menjadi target promosi budaya dan pariwisata selanjutnya. Secara umum, kita harus menciptakan image bahwa Indonesia aman, walaupun banyak "ancaman" musibah dsb, Indonesia memiliki keragaman budaya dan kemewahan alam yang menjadi daya tarik wisata. Indonesia is "dangerously beautiful"... Namun jangan pula seperti Malaysia yang berlebihan dengan promosi "Malaysia, Truly Asia"-nya. Malaysia dinilai "over promise, under deliver" karena banyak turis yang kecewa; tidak mendapatkan seperti yang mereka banyangkan. Indonesia, belajar dari kesalahan itu, harus bervisi "we deliver what we promise". Indonesia sudah memiliki "modal" berupa image -nya di dunia sebagai "The Smiling People".
Terkait dengan pengembangan sumber tenaga, Indonesia masih bergantung dan sulit lepas dari ketergantungan dan kebiasaan mengkonsumsi bahan bakar fosil, yang harganya mahal namun menjadi murah karena subsidi yang begitu besar dari pemerintah. Indonesia menjalin kerjasama dengan Perancis, Jepang dan China dalam hal pengembangan sumber energi listrik, dan kini mengarah pada pengembangan energi nuklir. Namun jalan masih panjang. Kita harus terlebih dahulu menyebarkan "public awareness" tentang energi nuklir. Hal-hal seperti akan dibangun di mana reaktor nuklir dan bagaimana pengamanannya, masih harus disosialisasikan. Korea Selatan bisa menjadi contoh nyata bagaimana kompleks penduduk di sekitar reaktor nuklir justru menjadi yang paling sejahtera, karena pengembang memberikan insentif yang tinggi pada penduduk.
Dengan Perancis, Indonesia bekerjasama dengan perusahan Thales dan Digelec dalam pengembangan radar dan pembangkit tenaga listrik.
Di bidang militer, Pak KK menyinggung urgensi revitalisasi industri pertahanan Indonesia. Namun terkait dengan APBN, pendidikan telah ditetapkan mendapat 20%...
Acara kemudian beralih ke animasi musik klasik. Denting piano, buaian suara flute dan gesekan biola yang dibawakan Anamy, Nana dan Lila, menjadi pemanis yang indah dan tampak para hadirin terutama Pak Menteri sangat menikmati suguhan musik klasik selama 30 menit tersebut. Acara kemudian berlanjut dengan ramah tamah dan makan malam yang diselingi alunan gamelan Sunda yang dibawakan teman-teman PPI Paris; Yanti, Bowie, Shevia, Cindy, Vonny, Uwie, Roby dan Adityo.
Pertemuan yang singkat namun sarat ilmu, dan tanpa disadari, Pak KK sudah menyuntikkan "semangat" kepada para hadirin untuk berbangga hati menjadi seorang Indonesia dan mempromosikan tanah air tercinta, karena sesungguhnya kita semua adalah duta bangsa...
Paris, 7 Mei 2009
No comments:
Post a Comment