Wednesday, March 25, 2009

Ramah Tamah Dgn Bapak Dien Syamsudin


KBRI Paris, 25 Maret 2009, 16-18.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, salah satu organisasi massa populer di Indonesia, Bapak Dien Syamsudin berkesempatan mengunjungi dan bersilaturahmi dengan masyarakat Indonesia di Paris. Sayang, kesempatan langka itu tidak banyak dihadiri oleh mahasiswa Indonesia; hanya segelintir orang saja yang datang dan tampak di antara puluhan diplomat dan pegawai KBRI Paris.

Kunjungan Bapak Dien Syamsudin ke Paris sebenarnya tidak mengusung agenda khusus, hanya sekadar jalan-jalan, setelah beliau selesai menghadiri konferensi di kota Lille. Jadi, pertemuan yang berlangsung sekitar satu setengah jam ini lebih merupakan sharing pengalaman beliau dan sedikit menyentuh pentingnya Interfaith Dialog...

Ringkasnya,

Dunia kini ditandai dengan adanya pergeseran hegemoni dan jalur kerjasama serta dialog semakin terlihat wujudynya, sebagai antitesis dari tesis "Clash of Civilisation" à la Huntington. Di samping itu, dunia kini juga ditandai dengan kesadaran yang meningkat atas kerusakan lingkungan.

Dari sisi dialog antarkeyakinan (interfaith dialog) dan konteks Pemilu, Pak Dien menekankan pentingnya menyerukan kampanye damai dan konsolidasi bangsa terutama di ranah politik. Muhammadiyah dalam hal ini, tela memprakarsai World Peace Forum dan Indonesia, seperti yang ditunjukkan Bapak SBY pada KTT lalu di Bogor, potensial menjadi aktor mediator berbagai konflik dunia, dengan segala keterbatasannya.

Islam dan Demokrasi, Islamisme, kemudian juga dibahas, terkait dengan pernyataan bahwa di media massa seringkali digunakan istiah "Islamisme", apakah ini sebuah bentuk eufimisme dari Islam ekstremis atau fundamentalis? Bref, banyak istilah yang memunculkan ambiguitas dalam media dan akhirnya menciptakan kesan yang salah tentang Islam secara umum, dalam pandangan orang awam. Namun yang terpenting dilakukan adalah mengembangkan lagi the so-called "high diplomacy" atau "5th track of diplomacy", di mana upaya berdamai tidak lagi melalui perang atau kekerasan lainnya, tetapi dalam bentuk pertukaran kebudayaan, atau bahkan olahraga. Sebagai contoh, melalui sepakbola.

Satu poin penting, terkait dengan interfaith dialog, adalah "to include the excluded", karena biasanya pertemuan atau dialog hanya melibatkan golongan moderat padahal justru mereka yang selama ini terkucilkan--orang atau golongan garis keras--yang harus dilibatkan dan didengarkan pendapatnya...

Diskusi ringan kemudian diakhiri dengan sesi foto dan santap bakso hangat :-)

2 comments: