Wednesday, January 28, 2009

Pertemuan Dgn Bpk Muchlas Samani

Pukul 14, rumah Dubes Unesco, Place Victor Hugo. 
Baru ada Shevia, Ibu Ika, dan aku. Mas Danang dan Mas Agus memilih ngobrol di luar. Ibu Mitha lagi asik menyiapkan menu untuk makan siang-yg agak telat-itu; sop baso ikan sebagai menu pembuka, nasi putih, gudeg, krecek sebagai menu utama. Hmm, sedap. Setelah 1 jam menunggu sambil membicarakan berbagai hal, mulai dari masakan, petits jobs à paris, sampai masalah TKW di Paris, datanglah tamu yang ditunggu2, Bapak Muchlas Samani, Direktur Ketenagaan DIKTI, bersama Atase Pendidikan, Bpk. Sudradjat. Satu per satu étudiant pun datang, hingga meja makan oval yang sekaligus dipakai sebagai tempat berdiskusi siang itu, penuh. 

Acara dimulai dengan makan siang bersama dengan menu istimewa à la Yogyakarta yang disiapkan Bu Mitha.


Tidak seperti pejabat pada umumnya, Pak Muchlas cukup bersahaja dalam penampilan dan bersahabat dalam berbicara. Yah, memang seharusnya begitu ya. Maka diskusi lebih banyak diwarnai candaan yang mencairkan suasana. Pertanyaan seputar beasiswa DIKTI, Form A, lama studi, dll menjadi topik utama siang itu. Di kesempatan ini juga teman2 seperti Mas Eko bisa bertanya; mengapa untuk yang sudah di luar negeri harus ikut wawancara juga, padahal dalam ketentuan yang ditetapkan DIKTI sendiri disebutkan bahwa bagi mereka yang sudah di LN tidak wajib wawancara; seleksi dilakukan berdasarkan berkas2 saja. Ternyata oh ternyata, bisa jadi kita salah mengisi Formulir. Karena, kata pak Muchlas, ada form untuk kandidat yg masih di Indonesia, dan ada form untuk mereka yg sudah di LN. Tapi ya gapapa, Mba Ratna pulang ke Indonesia, selain wawancara untuk beasiswa DIKTI, juga sekalian cari data soalnya. Hehehe. Lalu ada juga pertanyaan bagaimana bila sudah selesai S2 mau lanjut langsung S3, apakah DIKTI bersedia membiayai lebih lanjut? Jawabnya, tergantung ketersediaan dana di tahun2 selanjutnya (alokasi dari DPR) dan tentu saja hasil S2 kita apakah memuaskan atau tidak. Dan bagaimana pula bila ingin melanjutkan, setelah S3 selesai, ke jenjang post-doctorat? Jawabannya senada dgn yg sebelumnya.

Kriteria apa sih yang menentukan seleksi?

1. Tingkat universitas di dunia, nah kalau untuk universitas2 di Perancis yang 
ga ikutan sistem USA, ada peringkat tersendiri, terpisah dari rangking universitas2 USA, Inggris, Jepang, dan negara2 maju destinasi pendidikan lainnya.

2. Progress Report (bagi yang mendaftar untuk S3 tahun ke-2 dan tahun ke-3). Laporan mengenai kemajuan studi, hasil tulisan dan penerbitan, dsb, menjadi faktor yang menentukan.


Demikianlah, pertemuan informal dengan Bapak Muchlas berlangsung dengan penuh kehangatan, diselingi dengan cemilan2 gurih à la Tang Frère, sekotak coklat dan buah2an. Terima kasih Pak, semoga program beasiswa ini terus ada setiap tahun, supaya dosen-dosen, terutama yang di daerah, mendapat kesempatan meningkatkan kualitas diri. Dan semoga yang belum dapat tahun lalu, bisa dapat tahun ini ya Pak!!! (permohonan pribadi :P)
Amiiin!!!

No comments:

Post a Comment